Kamis, 07 Juni 2012

Perlawanan Terhadap Penjajahan Sebelum Masa Pergerakan Nasional

6/07/2012 12:37:00 PM - By Asih Pujiariani 0

 Kedatangan Kaum Penjajah ke Indonesia
Kedatangan bangsa Belanda ke tanah Nusantara dimulai pada tahun 1596. Untuk pertama kalinya beberapa kapal Belanda singgah di Pelabuhan Banten. Saat itu armada dagang Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Mula-mula para pedagang Belanda disambut dengan baik oleh rakyat Banten, namun karena kesombongannya, akhirnya Cornelis de Houtman dan armadanya diusir dari Banten.

Dua tahun setelah kedatangan pertama, bangsa Belanda datang lagi ke Indonesia. Kali ini mereka bersikap baik dan ramah. Belanda dapat diterima kembali di Indonesia. Sejak saat itu semakin banyak pedagang Belanda yang datang ke Indonesia . Hal ini mengakibatkan terjadinya persaingan dagang dan pertikaian di antara mereka. Akibatnya, harga rempah-rempah tidak terkendali. Untuk menghindari pertikaian yang lebih parah pada tanggal 20 Maret 1602 dibentuk Perkumpulan Dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Compagnie  yang disingkat VOC.

Mula-mula kegiatan VOC hanya berdagang. Akan tetapi, lama-kelamaan VOC berusaha menguasai perdagangan (monopoli). Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang, tetapi VOC diberi hak-hak istimewa oleh pemerintah kerajaan Belanda.

Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret 1602 meliputi:
  • Hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri;
  • Hak kedaulatan (soevereiniteit) sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk:
    1. membentuk angkatan perang,
    2. mengumumkan perang dan mengadakan perdamaian,
    3. merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda,
    4. memerintah daerah-daerah tersebut,
    5. menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan
    6. memungut pajak.
Dengan hak-hak istimewa tersebut, VOC berhasil menguasai pusat-pusat perdagangan di berbagai daerah, seperti Ambon, Jayakarta, dan Banda. Pusat perdagangan Jayakarta direbut Belanda pada masa Gubernur
Jenderal J.P. Coen. Ia kemudian memindahkan pusat kantor dagang VOC dari Ambon ke Jayakarta, dan mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. 
Berbagai kerajaan di wilayah Nusantara sadikit demi sedikit dikuasai oleh VOC. Dalam mencapai tujuannya VOC sering menggunakan kekerasan dan cara licik. Politik yang diterapkan Belanda dikenal dengan istilah  politik " adu domba" atau "politik pecah belah". Semboyan mereka adalah "devide et impera"yang artinya "pecah belah dan jajahlah"

 Pada Tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan. Beberapa penyebab VOC dibubarkan adalah :
  1. Pejabat-pejabat VOC melakukan korupsi dan hidup mewah.
  2. VOC menanggung biaya perang yang sangat besar.
  3. Kalah bersaing dengan pedagang Inggris dan Prancis.
  4. Para pegawai VOC melakukan perdagangan gelap.
Pada tanggal 1 Januari 1800, kekuasaan VOC di Indonesia digantikan langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Pada tahun 1806 Indonesia juga pernah dikuasai Pemerintah Prancis, kemudia Inggris selama beberapa waktu. Bagi bangsa Indonesia sama saja, selama tidak menjadi negara yang merdeka rakyat pasti hidup menderita.

Berbagai sepak terjang VOC hingga saat Indonesia dikuasai oleh Pemerintah Kerajaan Belanda, Inggris maupun Prancis telah menimbulkan penderitaan rakyat Indonesia sehingga timbul perlawanan bersenjata di berbagai daerah.

Beberapa kebijakan yang diterapkan Pemerintah kolonial Belanda di Indonesia dan menimbulkan penderitaan rakyat antara lain adalah Sitem kerja rodi, Sewa Tanah, dan Tanam Paksa

Kerja rodi adalah kerja paksa tanpa mendapatkan upah. Kerja Rodi dilaksanakan saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berkuasa di Indonesia. 

Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte raja Prancis berhasil menaklukkan Belanda.  Ia mengangkat Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Daendels diberi tugas untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menahan serangan Inggris khususnya di pulau Jawa. Untuk menahan serangan Inggris, Daendels melakukan tiga hal, yaitu:
1. menambah jumlah prajurit,
2. membangun pabrik senjata, kapal-kapal baru, dan pos-pos pertahanan,
3. membangun jalan raya yang menghubungkan pos satu dengan pos lainnya.

Daendels memberlakukan  rodi untuk membangun jalan. Rakyat dipaksa membangun Jalan Raya Anyer-Panarukan yang panjangnya sekitar 1.000 km. Jalan ini juga dikenal dengan nama Jalan Pos. Selain untuk membangun jalan raya, rakyat juga dipaksa menanam kopi di daerah Priangan untuk pemerintah Belanda. Banyak rakyat Indonesia yang menjadi korban kerja rodi.

Untuk mendapatkan dana biaya perang pemerintah kolonial Belanda menarik pajak dari rakyat. Rakyat diharuskan membayar pajak dan menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1811, Daendels dipanggil ke Belanda. Ia digantikan oleh Gubernur Jenderal Janssens. Saat itu pasukan Inggris berhasil mengalahkan
Belanda di daerah Tuntang, dekat Salatiga, Jawa Tengah. Gubernur Jenderal Janssens terpaksa menandatangani Perjanjian Tuntang.

Berikut ini isi Perjanjian Tuntang:
1. Seluruh wilayah jajahan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Inggris.
2. Adanya sistem pajak/sewa tanah.
3. Sistem kerja rodi dihapuskan.
4. Diberlakukan sistem perbudakan.

Inggris berkuasa di Indonesia selama lima tahun (1811-1816). Pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Pemerintah memberlakukan sistem sewa tanah yang dikenal dengan nama landrente. Rakyat yang menggarap tanah diharuskan menyewa dari pemerintah.
Pada tahun 1816, Inggris menyerahkan wilayah Indonesia kepada Belanda.
Pemerintah Belanda menunjuk Van Der Capellen sebagai gubernur jenderal. Van Der Capellen mempertahankan monopoli perdagangan yang telah dimulai oleh VOC dan tetap memberlakukan kerja paksa.
Pada tahun 1830, Van Der Capellen diganti Van Den Bosch. Bosch mendapat tugas mengisi kas Belanda yang kosong. Ia memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelsel untuk mengisi kas pemerintah yang kosong.

Van Den Bosch membuat aturan-aturan untuk tanam paksa sebagai berikut:
1. Rakyat wajib menyediakan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di pasaran Eropa.
2. Tanah yang dipakai untuk tanamam paksa bebas dari pajak.
3. Hasil tanaman diserahkan kepada Belanda.
4. Pekerjaan untuk tanam paksa tidak melebihi pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
5. Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan Belanda.
6. Rakyat Indonesia yang memiliki tanah harus bekerja 66 hari tiap tahun bagi pemerintah Hindia Belanda.

Pada kenyataannya, pelaksanaan tanam paksa jauh menyimpang dari ketentuan itu. Misalnya, tanah yang harus disediakan oleh petani melebihi luas tanah yang telah ditentukan, rakyat harus menanggung semua kerusakan hasil panen, rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja lebih dari 66 hari, dan lain-lain.

Akibat keseweng-wenagan Pemerintah Belanda, Tanam paksa mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi rakyat Indonesia. Rakyat mengalami kelaparan karena tidak sempat menanam berbagai tanaman pangan yang dapat dikonsumsi. Akibat kelaparan banyak rakyat yang mati. Sebaliknya, tanam paksa ini memberikan keuntungan yang melimpah bagi Belanda. Namun, masih ada orang Belanda yang peduli terhadap nasib rakyat Indonesia. Di antaranya adalah Douwes Dekker. Ia mengecam tanam paksa melalui bukunya yang berjudul Max Havelaar, dalam bukunya Douwes Dekker menggunakan nama samaran Multatuli.

Max Havelaar menceritakan penderitaan bangsa Indonesia sewaktu  dilaksanakan tanam paksa. Max Havelaar menggegerkan seluruh warga Belanda, hingga timbul perdebatan hebat tentang tanam paksa di negeri Belanda. Akhirnya, Parlemen Belanda memutuskan untuk menghapus tanam paksa secepatnya.


Perlawanan Terhadap Belanda
Sejak awal kedatangan kaum penjajah, di berbagai wilayah di Indonesia sebenarnya muncul  berbagai perlawanan bersenjata dari waktu ke waktu, namun perlawan tersebut dapat dipatahkan. Beberapa diantaranya adalah :


1. Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Iman Bonjol adalah pemimpin Perang Padri tahun 1821- 1837. Penyebab timbulnya Perang Padri adalah adanya pertentangan antara kaum adat dengan kaum Islam (ulama). Kaum adat terdiri atas raja dan para pengikutnya, sebagian besar masyarakat Minangkabau dikuasai oleh kaum adat.
Perbuatan dan adat kebiasaan para penghulu adat sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Seperti kebiasaan hidup mewah, berjudi, minum minuman keras dan menyambung ayam. Sikap hidup yang demikian menimbulkan kerawanan sosial. Di dalam masyarakat, sering terjadi pencurian, perampokan serta menimbulkan kegelisahan masyarakat. Akibat yang lebih jauh lagi adalah membawa kemelaratan terhadap rakyat.

Pada awal abad ke-19 terjadi perubahan. Pada saat itu mulai banyak orang Minangkabau yang pergi menunaikan ibadah haji. Selama menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Di tanah suci Arab sedang terjadi gerakan
Wahabi, yaitu gerakan yang menghendaki agar ajaran Islam dilaksanakan secara murni sesuai dengan Alquran dan Hadis Rosul. Sepulangnya dari haji, orang Minangkabau menyebarkan ajaran Wahabi tersebut. Para pengikutnya disebut Kaum Padri.

Kaum Padri menentang kebiasaan dan adat istiadat yang merusak masyarakat, terutama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pimpinan kaum Padri adalah Peta Syarif. Beliau dikenal dengan nama Iman Bonjol
atau Tuanku Imam Malim Besar. Beliau dilahirkan pada tahun 1772 di Tanjung Bunga Pasaman, Sumatera Barat. 

Iman Bonjol mewajibkan pengikutnya memakai pakaian dan sorban putih. Oleh karena itu, mereka disebut kaum Putih. Perbedaan antara kedua kaum itu menimbulkan permusuhan yang akhirnya meningkat menjadi perang saudara. Perang saudara ini menjadi meningkat setelah kekuasaan asing campur tangan. 

Belanda memanfaatkan pertentangan yang sedang terjadi di Minangkabau saat itu. Pada tanggal 10 Februari 1821, Belanda mengadakan perjanjian antara kaum adat dengan Gubernur Jenderal Belanda. Atas dasar perjanjian itulah beberapa daerah dikuasai oleh Belanda. Mereka pun bersiap-siap untuk menghadapi kaum Padri.
Kaum Padri mengetahui rencana tersebut, mereka segera membuat benteng yang besar dan luas di daerah Bonjol. Akhirnya, Belanda menyerang kaum Padri dengan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Raaf. Pertempuran dasyat pun tak bisa dihindarkan lagi. Tuanku Imam Bonjol menyambut Belanda dengan perlawanan yang gigih. Imam Bonjol dibantu oleh sejumlah ulama dan penghulu yang memihak kepadanya, seperti Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik. Belanda mendirikan benteng di Bukittinggi dan Batusangkar. Walaupun demikian, Belanda tidak dapat mengalahkan pasukan kaum Padri. Dalam pertempuran itu, Tuanku Nan Renceh gugur dan menjadi pahlawan bangsa.
Pada tahun 1825, di Pulau Jawa sedang terjadi Perang Diponegoro. Belanda menghadapi kesulitan. Mereka harus mengerahkan kekuatan militernya ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, Belanda bermaksud mengadakan perjanjian damai dengan Imam Bonjol. Pada tanggal 29 Oktober 1825, Belanda berhasil mengadakan
perjanjian damai dengan kaum Padri yang terkenal dengan Perjanjian  Padang. Isi perjanjian tersebut adalah “Kedua belah pihak sepakat mengadakan gencatan senjata.” Setelah perjanjian itu, selama 4 tahun tanah Minangkabau aman, tidak ada peperangan antara kaum Padri dengan Belanda.

Ketika Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830, pasukan Belanda dialihkan untuk menyerang Imam Bonjol. Pada pertengahan tahun 1832, Belanda mengirimkan pasukannya ke Sumatera Barat. Benteng Padri yang kuat itu pun berhasil direbut Belanda. Namun, pada tahun 1833 benteng itu dapat direbut kembali oleh pasukan Imam Bonjol dari tangan Belanda.

Belanda terus berusaha menundukkan Iman Bonjol. Kini, Belanda menggunakan siasat Benteng. Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Michiels. Ketika itu, kaum Padri sudah bersatu dengan kaum adat untuk bersama-sama melawan Belanda.

Walaupun senjata pasukan Belanda lengkap dan banyak, tetapi mereka baru berhasil menguasai benteng Bonjol pada bulan Oktober 1837. Imam Bonjol berhasil ditangkap Belanda pada tanggal 25 Oktober 1837. Pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon Maluku. Kemudian pada tahun 1841, dipindahkan ke Manado di Sulawesi Utara. Pada tanggal 6 November 1864, beliau wafat dalam usia 92 tahun. Dimakamkan di kampung Pineleng dekat Kota Manado.

2.  Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, dengan nama kecil Pangeran Ontowiryo. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono III. Beliau mendapat pendidikan agama Islam, keprajuritan dan kepahlawanan. Juga budi pekerti, cinta kepada sesama manusia, cinta bangsa dan cinta tanah air dari kakek buyutnya.

Berkat pendidikan nenek buyutnya, Pangeran Diponegoro menyadari benar bahwa kemerosotan bangsa dan negaranya adalah akibat adanya penjajahan Belanda. Alasan lain yang mendorong Pangeran Diponegoro
melakukan perlawanan terhadap Belanda sangatlah banyak. Kerajaan Mataram yang demikian besarnya pecah menjadi 4 kerajaan kecil akibat campur tangan Belanda, yaitu Kerajaan Yogyakarta, Kerajaan Surakarta, Kerajaan Paku Alam, dan Kerajaan Mangkunegaraan. Bahkan Patih Kerajaan Yogyakarta yang bernama Danureja IV mendukung penjajahan Belanda. Ia turut serta memeras rakyat.

Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro tidak menyukai terhadap patih kerajaan tersebut. Kemarahan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda memuncak ketika Patih Danureja IV, suruhan Daendels memasang
tonggak-tonggak di atas tanah milik Pangeran Diponegoro di Tegalejo.

Hal itu dilakukan tanpa seizin Pangeran Diponegoro terlebih dahulu. Pada tanggal 20 Juli 1825, pasukan Belanda melakukan serangan ke Tegalrejo. Hal ini membangkitkan perlawanan Pangeran Diponegoro.

Daerah Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kedu dan Banyumas juga ikut berontak. Kedu dijadikan pusat perlawanan dan pemerintahan Pangeran Diponegoro. Markas besarnya terletak di Gunung Manoreh. Perlawanan Diponegoro dibantu pula oleh teman-temannya. Pangeran Mangkubumi dan Kiai Maja sebagai penasehat. Pangeran Ngabehi Jayakusuma dan Sentot Alibasya Prawirodirjo sebagai panglima perang. Ada pula bantuan dari Imam Musba dan Prawirokusumo.

Pengaruh perlawanan Pangeran Diponegoro sampai pantai utara Jawa. Rakyat mengangkat Pangeran Diponegoro menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdulhamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama.

Perang Diponegoro berlangsung bertahun-tahun, mulai tanggal 20 Juli 1825 sampai 28 Maret 1830. Siasat Perang Diponegoro adalah gerilya. Markasnya terus berpindah-pindah, mula-mula di Tegalrejo kemudian
pindah ke Selarong, Plered, Sala, Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal dan Pekalongan.

Belanda mendatangkan serdadu dari negerinya untuk mengadakan tekanan dan gerak cepat. Beberapa daerah dapat dikuasasi Belanda, yaitu Madiun, Bojonegoro, Pati, Semarang dan Pekalongan. Bahkan, Belanda terus-menerus mengadakan tekanan agar pasukan Pangeran Diponegoro keluar dari Yogyakarta dan Surakarta. Siasat Belanda adalah siasat Benteng (Benteng Stelsel). Akibatnya, daerah gerilya semakin sempit dan tidak dapat bergerak.

Pada tahun 1829, Kiai Maja tertangkap oleh Belanda, kemudian diasingkan ke Manado. Sebulan kemudian, Sentot Alibasya justru menyerah kepada Belanda. Ia dikirim ke Sumatera untuk memerangi Imam Bonjol dalam Perang Padri. Akhirnya, ia wafat di Bengkulu. Walaupun sudah ditinggalkan oleh para pembantunya, Pangeran Diponegoro terus berjuang.

Panglima tentara Belanda, Jenderal de Kock meminta agar Pangeran Diponegoro mau melakukan perundingan dengan menjamin keselamatannya. Perundingan dilakukan di Magelang, namun Jenderal de Kock mengingkari janjinya. Secara tiba-tiba seluruh pengikut Pangeran Diponegoro dilucuti senjatanya dan Pangeran Diponegoro ditangkap. Dari Magelang, Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dengan kapal
kemudian ke Batavia. Dari Batavia, Pangeran Diponegoro dibawa ke Manado (1830), kemudian dipindahkan ke Ujungpandang (1834). Beliau ditahan di Fort Rotterdam (benteng Makassar). Setelah ditahan selama 24 tahun oleh Belanda, pada tanggal 18 Januari 1855 beliau wafat dan dimakamkan di Kota Ujungpandang.

Perlawanan Pangeran Diponegoro ini ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar dan luas. Bagi Belanda, Perang Diponegoro telah menelan korban yang cukup besar, yaitu telah kehilangan 8.000 orang
Eropa dan 7.000 orang pribumi serta menelan biaya yang tinggi, yaitu 20 juta gulden.

3 Pangeran Antasari
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ibu Pangeran Antasari adalah Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) putra dari Pangeran Amir.Pangeran Amir adalah putra dari Sultan Tahmidillah I, Sultan Kerajaan Banjar. Sultan Tahmidillah I (1778 – 1808) mempunyai anak tiga orang, yaitu Pangeran Rahmat, Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir. 


Pangeran Rahmat dan Pangeran Abdullah dibunuh oleh Pangeran Nata yang ingin merebut kekuasaan dengan dukungan Belanda. Pangeran Nata salah seorang saudara Sultan Tahmidillah I, Setelah saudara-saudaranya meninggal, Pangeran Amir menyadari bahwa keselamatan diri dan keluarganya terancam, maka beliau meninggalkan istana, untuk kemudian beliau singgah ke Pasir ke tempat pamannya Arung Tarawe. Arung Tarawe menyanggupi memberi bantuan pada Pangeran Amir, untuk menyerang Martapura, untuk merebut tahta dari Pangeran Nata Alam.

Namun dengan bantuan oleh Belanda, akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap dan di buang ke Ceylon, Sebagai imbalan, Sultan Tahmidillah II harus menyerahkan daerah-daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin kepada Belanda.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Pangeran Antasari, yang lahir pada tahun 1809. Sejak kecil pangeran Antasari tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi kekuasaan Belanda. Ia hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama kepada para ulama, dan hidup dengan berdagang.dan bertani. Pengetahuannya yang dalam tentang Islam, ketaatannya melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ikhlas, jujur dan pemurah adalah merupakan akhlaq yang dimiliki Pangeran Antasari. Pandangan yang jauh dan ketabahannya dalam menghadapi setiap tantangan, menyebabkan ia dikenal dan disukai oleh rakyat. Dan ia menjadi pemimpin yang ideal bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin.

Saat Sultan Tahmidillah II wafat, digantikan oleh Sultan Sulaiman (1824-1825) yang memerintah hanya dua tahun; kemudian digantikan oleh Sultan Adam (1825-1857). Pada masa ini kesultanan Banjar hanya tinggal Banjarmasin, Martapura dan Hulusungai. Selebihnya telah dikuasai oleh Belanda. 

Pada masa berkuasa, Sultan Adam telah mengangkat Pangeran Abdurakhman sebagai putra mahkota. Akan tetapi, pada tahun 1852 Pangeran Abdurakhman wafat dan meninggalkan 2 orang putra, yaitu Pangeran Tamjidillah dan Pangeran Hidayat. Pada tahun 1857, Sultan Adam meninggal dunia. Di dalam surat wasiatnya beliau menyatakan bahwa yang akan menggantikannya adalah Pangeran Hidayat. Pihak Belanda melalui residennya yang bernama Van Hengst tidak setuju. Belanda lebih menyukai Pangeran Tamjidillah untuk menjadi sultan Banjar. Pangeran Tamjidillah sendiri tidak disukai oleh rakyat karena tidak taat beragama, suka hidup berfoya-foya dan sangat dekat dengan Belanda.

Perlakuan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Belanda terhadap kesultanan Banjar dan penindasan terhadap rakyat membangkitkan kemarahan rakyat untuk menentang Belanda. Dalam kondisi seperti ini adalah Pangeran Antasari sebagai pemimpin rakyat tampil ke depan untuk memimpin perlawanan ini.

Pada bulan April 1859, pasukan Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda. Perlawanan rakyat bergelora dan meluas kemana-mana. Benteng Belanda di Pangaron digempur, kemudian menguasai Muning
dan Martapura. Beliau dibantu oleh Surapati, Kiai Demang Leman, Kiai Adipati Mangkunegara, Kiai Sultan Kara, Kiai Langlang, Haji Masrum, Haji Bayusin, Tumanggung Singapati dan Cakrawati.

Taktik perangnya adalah siasat gerilya. Tumanggung Surapati berhasil membakar kapal Belanda, yaitu Onrust di Sungai Barito. Pangeran Hidayat kemudian bergabung melawan Belanda. Mengetahui kejadian itu, Belanda segera menghapuskan Kesultanan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860. Sambil terus melakukan penekanan, Belanda juga membujuk Pangeran Hidayat untuk berunding. Akhirnya, Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur Jawa Barat.

Pangeran Antasari terus melakukan perlawanan, rakyat mengangkat Pangeran Antasari untuk menggantikan. Ia pun memperoleh gelar Panembahan Amiruddin Khalifat ul Mu’minin sebagai pengganti Sultan Adam.
Walaupun sudah diangkat menjadi sultan, Pangeran Antasari tidak mau berdiam diri di keraton. Beliau memilih tinggal di benteng-benteng atau markas-markas pertahanan di dalam hutan belantara. Beliau terus
berjuang walaupun usianya semakin tua. Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat di Hulu Teweh (Kalimantan Selatan).

Perlawanan rakyat Banjar terus berkobar. Walaupun akhirnya Belanda dapat menangkap beberapa pemimpin pasukan Pangeran Antasari yang bermarkas di gua-gua, yaitu Kiai Demang Leman dan Tumanggung Aria Pati. Tahun 1866, Haji Buyasin gugur di medan perang. Sementara Kiai Demang Leman digantung Belanda. Putra-putra Pangeran Antasari melanjutkan perjuangan ayahandanya, antara lain Sultan Seman hingga meninggalnya pada tahun 1905.

EVALUASI


Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Antasari
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/01/perang-banjar-1-campur-tangan-belanda-dalam-kekuasaan-kesultanan-banjar/

About the Author

Seorang guru yang ingin berbagi tentang warna warni pembelajaran di kelasnya, berharap bisa bermanfaat untuk banyak orang. Follow me Asih Pujiariani
View all posts by admin →

Get Updates

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

Share This Post

0 komentar :

Pageview

MULTIMEDIA

MULTIMEDIA
Klik gambar ! untuk menuju laman

Sahabat Bu Asih

Powered by Blogger .
back to top