8




              Murid kelas lima SD nggak bisa menghitung 2 x 8, aneh memang tapi nyata adanya. Dan ini bukan kasus pertama yang saya temui. Tahun lalu ada satu anak dengan kasus serupa. Tahun ini alhamdulillah ada dua.

               Jika anda mengajar di SD perkotaan apalagi SD favorit yang bahkan menyeleksi calon siswanya, tentu anda tidak akan menemui kasus seperti ini. Tapi di sekolah-sekolah pinggiran, apalagi di daerah yang agak terisolir seperti tempat saya mengajar, mungkin akan ditemui kasus serupa. Berbagai keterbatasan seperti kurangnya jumlah guru, jumlah ruang kelas, dan faktor-faktor lain mungkin adalah penyebabnya.


                Ketidakmampuan siswa menyelesaikan soal sesederhana itu, membawa saya pada kesimpulan bahwa siswa tersebut belum memahami konsep perkalian. Pada kondisi yang normal seharusnya anak sudah memahami konsep perkalian di kelas 2 SD. Siswa-siswa saya tersebut adalah anak yang normal jasmani dan rohani. Lalu mengapa siswa tersebut belum memahami konsep tersebut hingga saat ini?
                
                Matematika memang pelajaran yang unik. Kelekatannya dengan angka-angka dan simbol menjadikannya berbeda dengan mata pelajaran lain. Angka dan simbol pada kenyataanya memang lebih sulit dipahami bagi sebagian anak. Sebagaimana pendapat Piaget, anak usia 7 hingga 11 tahun tahap berpikir mereka masih berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini yang dapat mereka pahami adalah hal-hal yang nyata, sesuatu yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan dengan panca indera mereka. Sedangkan konsep bilangan tidaklah seperti itu. Adalah tugas guru untuk menjembatani konsep yang abstrak agar  terlihat nyata bagi siswa. Dan saya adalah guru mereka.

               Untuk meminimalisir keabstrakan konsep kita dapat menggunakan alat peraga. Mengingat kondisi sosial ekonomi wali murid yang memang kurang berada, yang saya pikirkan adalah sebuah alat peraga yang mudah didapat, murah tapi cukup efektif. Saya kemudian teringat bagaimana guru SD saya dulu mengajari saya berhitung. Kami berhitung menggunakan lidi.

               Lidi, adalah bahan yang sangat mudah diperoleh siswa. Mereka umumnya mempunyai kebun dengan pohon enau atau pohon kelapa di dalamnya, jadi mereka tidak harus membeli. Lidi juga mudah dibawa, ringan, dan aman. Maka sempurnalah lidi sebagai pilihan saya.
Pada prakteknya penggunaan lidi memang cukup efektif. Siswa-siswa saya mulai mahir berhitung sekarang. Bahkan mereka sudah dapat memahami konsep pembagian. Menarik akar bilangan kuadratpun bukan masalah.

Senangnya melihat mereka bagitu antusias belajar matematika.

Poskan Komentar

 
Top